Laman

Rabu, 07 Juni 2017

8 Years

I watched Extremely Loud & Incredibly Close today. In the movie, the main character, Oscar, said this:

"If the sun were to explode, you wouldn't even know about it for 8 minutes because thats how long it takes for light to travel to us. For eight minutes the world would still be bright and it would still feel warm. It was a year since my dad died and I could feel my eight minutes with him... were running out"

Oscar, it's been 8 years for me, today.. I'm doing my best to keep my 8 minutes with my dad, I do everything to make it lasts longer. 

Selasa, 11 April 2017

Bagaimana jika masa lalu mu datang kembali, dan ingin memperbaiki apa yang pernah terjadi?
Membawa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini masih terus kau pertanyakan.

Kau mungkin akan goyah, hal-hal terbaik dan terindah memang terkadang perlu sakit dulu untuk akhirnya dimiliki. 
Tapi, buat apa membuka kembali apa yang dulu sudah terlanjur kita tutup?
Di dunia ini, ada hal-hal yang sebenarnya sudah berakhir, dan tidak mesti dilanjutkan lagi. Tidak semua cerita memiliki akhir bahagia. Pertanyaan-pertanyaan itu pun mungkin sudah terjawab, hanya saja manusia terkadang tidak ingin menerima karena itu bukan jawaban yang diinginkan. 
Ikhlaskanlah, akhirnya mungkin memang harus begitu. 

Selasa, 04 April 2017

First Goodbye


Aku sangat sadar bahwa akan selalu ada perpisahan untuk suatu perjumpaan. Dan hari ini, aku melambaikan lambaian selamat tinggal untuk pertama kalinya semenjak aku di Amerika.
Workshop di Washington DC telah usai. Malam itu, malam terakhir, adalah waktu yang paling emosional. Aku berusaha keras untuk tidak menangis. Well, aku tidak menangis untuk orang-orang yang baru kutemui, camku dalam hati.
Aku baru bertemu mereka 3 hari yang lalu.
Tapi, kenapa di hari terakhir ini, aku merasa bahwa ada bagian diriku di mereka. Aku melihat diriku di diri mereka.
Aku merasa aku punya banyak momen "me too!" dengan mereka.
Momen "me too!" ini begitu terasa di hari terakhir workshop. Ketika kami sama-sama menuliskan perasaan kami tentang beberapa hal.
Ini menyangkut kembalinya kami ke negara asal kami masing-masing.
Di ruangan itu, ditempeli beberapa kertas karton besar dengan judul di masing-masing bagian atasnya.
"How I see my community"
"Returning to school or work"
"Family and friends"
"My future goals and plans"
"My personal growth"


Senin, 13 Maret 2017

Slight Reminder

We've got an e-mail from World Learning today. It's the best e-mail of the week, they said. Because it came along with our tickets to Washington DC.
I was so excited for the first seconds, and it switched to a reminder that my stay in this country is coming to an end. Yes, this workshop that I'm gonna attend is labelled as "End of Program Workshop."
I have to get ready for leaving.
God, even just thinking of it has made my heart beats so fast. It's not a happy beat, btw.
It was, a nervous. A got-some-butterflies-on-my-stomach beat.

In the afternoon, I skyped with Lauren, one of my advisors. She asked me some necessary questions about my classes, comunity services, and other school stuffs. Before we ended the call, Lauren said:
"See you next week in DC, Winni.", in a cheerful way of saying.
Yes, Lauren, see you next week.
Let me put aside my thought of leaving and write some happy things that I should be thankful for.

I'm so looking forward to see Lauren, Roya, and all World Learning staffs in Washington DC. All the people behind this exchange program, they work so hard to make so many people's dreams come true. They make our journey in USA possible, they are, GEM.
At first, I thought that it would be so fun to be in their position, I mean, to have that kind of job. Well, yeah it is so fun, they work on diversity, on mutual understanding, on helping great youngsters to pursue their dreams. But it is not only about the fun. They work hard. Very hard. They arranged our schools, they reserved our tickets, they made sure that we catched up our connecting flight, they stayed awake when we were travelling to US, from our home countries. They made sure that we arrived in our university safely. We talked for several times during the semester, they cared about whether we enjoy the foods, the dorm, or having some good friends. Yeah. We owe them a lot.
They are so kind.
I would hug them so tight when I get to meet them. I will never forget about them.
No, they give me love, help, kindness, and a feeling of being so lucky to be able to meet them in my life.
Thank you for helping us, World Learning.

I learn a lot.

Seriously.

7 November 2016

Rabu, 22 Februari 2017

Our Fear

Jum'at, 2 Desember 2016.

Tepat seminggu sebelum aku meninggalkan US. Aku tidak ada kuliah tiap hari Jum'at. Begitupun Honggyoung dan Tina, dua orang teman dekatku selama disini. 
Kebanyakan internasional student (terutama yang hanya exchange) memang sengaja tidak mengambil kelas hari Jum'at. 
Agar bisa jalan-jalan. Pikir kami. 
Tapi minggu ini, kami tidak ada rencana kemana-mana. Ini adalah weekend terakhirku di kampus. Aku ingin menghabiskannya hanya di kampus.
Aku bangkit dari tempat tidur sekitar pukul 9. Menelepon Honggyoung, menanyakan apakah dia mau sarapan bareng. Telepon ku yang membangunkannya, suaranya berat. Setelah itu, aku keluar kamar untuk mencuci muka. Sekalian mengetuk kamar Tina. Tina juga baru bangun ternyata. 
"Let's have breakfast in 15 minutes."
Dia mengangguk. 
Kukira dia akan meminta tambahan waktu. Untuk mandi dan sebagainya. 
15 menit kemudian, aku sudah berdiri diantara Tina dan Honggyoung, di depan asrama. Cuaca cukup dingin hari ini. Kulihat tadi subuh-subuh sekitar -2 derajat. 
Kami berhenti sejenak. Berdiri, melihat penampilan satu sama lain.
Tidak ada satupun dari kami yang mandi pagi itu, tidak pula ber make up. Kami hanya memakai pelembab bibir supaya bibir kami tidak pecah-pecah. Tina memakai topi nya, pertanda dia tidak ber-make up. Honggyoung masih jelas dengan muka bantalnya. Aku? Aku masih dengan piyama dan jilbab yang kusut.
Kami berjalan dengan pede menuju kafetaria.
Karena hari Jum'at dan masih terbilang pagi, kafetaria tidak terlalu ramai. Kami memilih tempat duduk di dekat jendela besar yang menghadap gedung perkuliahan. Tempat duduk favorit kami.

Setelah mengambil makanan, kami duduk. Tidak langsung mulai makan.
Tina memulai percakapan.
Dia berkata bahwa dia sedikit takut untuk balik ke Jepang, negaranya.
Kami tanya kenapa, dia jawab karena dia sudah kurang peduli dengan penampilannya. Dia sudah nyaman dengan muka bantal dan baju tidur kemana-mana. Sedangkan di negaranya, orang-orang "terlalu" peduli dengan penampilan orang lain.
Honggyoung langsung dengan semangat menimpali.
Dia merupakan satu dari sedikit orang Korea yang jarang ber-makeup.
Selama satu semester ini, mungkin aku bisa menghitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali dia ber-makeup.
Tapi dia bilang, di negaranya, orang bahkan men-judge seseorang tidak sopan jika menunjukkan "bare face" atau muka polos tanpa makeup mereka ke orang lain.
Aku menghela napas.
Aku sendiri?
Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menggosok baju. Aku sudah jarang menghabiskan waktu belasan menit untuk mematut diriku di cermin sambil berfikir "Ini jilbab sama baju cocok gak ya? Tabrak lari gak ya?"
Kami sudah nyaman dengan keadaan seperti ini.
Tidak ada yang akan mengomentari muka bantal kami, muka tanpa makeup kami, dan baju kusut kami.
Tidak ada yang akan menertawakan jika baju kami tidak matching atau apalah.
Tapi, jika kami menggunakan baju yang menarik, orang-orang tidak akan segan untuk memuji.
"Oh I love your outfit!"
"Your hijab is so beautiful!"
"What a nice shoes!"

Kami harus beradaptasi lagi.
Ke budaya dan tekanan sosial yang sudah kami jalani kurang lebih 20 tahun ini.
Meninggalkan 4 bulan yang banyak mengubah cara pandang dan cara berperilaku kami.
4 bulan dan 20 tahun.

Ini gak akan sulit, kan?

Sabtu, 04 Februari 2017

(3)


Dua hal yang membuatku merasa tenang setelah kembali dari Amerika
Adalah jendela kaca besar, dan Medan dari ketinggian

Pergi jauh membuatku mampu melihat beberapa hal dalam jarak
Teman, lingkungan
Sialnya, aku terlalu menikmati jarak itu
Hingga ketika aku kembali, dan jarak itu hilang
Aku merasa asing
Aku merasa kecewa
Aku menikmati melihat kehidupanku selama 20 tahun ini, dari jarak yang jauh
Benar, bahwa jarak mampu membuat hal-hal menjadi lebih indah dan bagus dipandang
Tapi itu bisa berarti, bahwa hal-hal tersebut memang seharusnya hanya dilihat dengan jarak
Dekat hanya akan membawa kekecewaan
Menabur luka

Terima kasih telah mengenalkan ku pada satu tempat dengan jendela kaca besar, dan ketinggian
Sehingga aku kembali bisa melihat kotaku dari ketinggian. Dengan jarak.

Aku, merindukan jarak itu...

Medan, 13 Desember 2016
21.35

(2)

Ruang Tunggu


Nashville, Detroit, Tokyo, Jakarta
Mereka sekarang memiliki satu kesamaan
Ruang tunggu bandaranya pernah menjadi saksi bisu
Percakapan kita

Aku tidak pernah merasa sebahagia ini ketika menunggu
Apalagi menunggu waktu untuk terbang
Semua kegelisahanku menguap
Sakit perutku hilang

Di beberapa tempat, antara 9 dan 10 Desember 2016