Postingan

“talking to someone everyday for hours can be pretty destructive. because there will come a day when you don’t speak at all and it’s going to be the loneliest feeling in the world.”
Gambar
Terima kasih, untuk melakukan sebaliknya
Biasanya kalau lagi gak enak badan, aku gak langsung menyimpulkan bahwa aku kelelahan dan butuh istirahat. Karena bisa saja aku demam karena bosan, atau lagi pengen sesuatu. Entah ajaran dari mana memang. Tapi, pernah beberapa kali, ketika lagi demam, aku malah memilih hangout sama teman-temanku, hasilnya sembuh! But seriously, pas kita sakit, psikologis emang butuh ngasih obat juga. Kita musti bahagia dan optimis kalo kita gak apa-apa. Yakan anak-anak psikologi??? Jadi, itu yang kulakukan saat aku mulai meriang di kampus hari Selasa lalu. Cuaca alhamdulillah luar biasa cerah akhir-akhir ini. Aku selalu sukses sampai rumah dengan muka merah padam menuju gosong. Senin dan Selasa minggu ini, berturut-turut aku ke kampus pagi-pagi menerjang angin pagi bypass yang udah gak pernah segar lagi karena asap mobil-mobil ber roda 12 ke atas itu. Bisa jadi aku memang lelah. Tapi, sore itu aku ajak si Uni untuk mejeng. Kami makan di daerah pondok. Aku memesan batagor ikan yang sukses buat aku fe…
"Time and time again, people show us who they really are. They show us their true colours. Yet, bizarrely, we fail to acknowledge that, for our mind is engrossed with the idea of perceiving people as the people we want them to be. We fail to recognize their true colours because, on the canvas of our life, we view them in completely different hues. Hues that our eyes have been starved of their entire life. Hues that we’ve been longing to have on our canvas. We try to fit blank spaces with colours that’ll never fulfill the potential of turning it into a masterpiece, almost like a confusedly stubborn infant trying to fit a square into a star mould, since what we fail to comprehend is that people can never be what you want them to be, for just like us, they too have canvases of their own, which they’re busy embellishing with strokes made by the brushes of imagination and acumen, dipped by the hues of belief and hope from their palettes. We’re all looking for a specific hue. One that’…

Marapi Night

Malam itu, aku memutuskan untuk mengabaikan demam dan sakit tenggorokan yang kuhadapi untuk keluar malam dan bertemu Cara. Suaraku hampir hilang malam itu, tapi aku memutuskan untuk bertemu seseorang yang baru, orang asing, yang kemungkinan akan membuat aku harus berbicara banyak. Aku memang merasa cukup lelah hari itu, ditambah cuaca yang hujan seharian. Tapi tepat pukul 8 malam, aku sudah berada di depan Hoya. Aku melihat Cara yang baru aku lihat malam itu, dan 2 orang temanku yang sudah kukenal sebelumnya. Mereka sudah menunggu di dalam. Tidak, aku tidak terlambat, kami memang janji pukul 8. Mereka yang lebih cepat datang. Aku secara random memakai sweater merah marun dengan tulisan HARVARD malam itu. Saat aku menyapa Cara, aku merasa dia sedikit kaget melihat pakaianku, dan seperti orang-orang Amerika lainnya, dia memberi pujian dengan "Oh I love your sweater!". Setelah kami berbincang, aku kemudian mengetahui bahwa dia adalah lulusan Harvard. So random.
Malam itu, aku …
Aku sedang menunggu tukang parkirnya memberi kembalian saat Papa menutup kaca mobil dan beranjak pergi. "Loh, Pa. Kembaliannya belum?", kataku keheranan. "Biar aja.." "Parkirnya kan cuma 2000 Pa, itu tadi Papa kasih kebanyakan.." "Gak apa-apa, Kak.." Di malam itu, perjalanan pulang dari tempat les, Papa kembali bercerita tentang masa mudanya. Aku tahu bahwa Papa dulu sekolah sambil bekerja membiayai hidup di Medan, merantau dari Pasaman Barat sejak kelas 1 SMP.  Tapi cerita Papa biasanya sepotong-sepotong, sebagai pengantar kami tidur. Malam itu, Papa bercerita tentang salah satu pekerjaan yang pernah Papa lakukan dulu; tukang parkir. "Dulu waktu Papa jadi tukang parkir, kalau ada yang lebihin uang parkirnya, Papa senaaaang kali, Kak. " "Hmm, makanya Papa suka lebihin uang parkir buat tukang parkir ya?" "Iya.. Gak ada salahnya kan Kak." "Hmm, iya Pa.."

Cerita itu Papa kisahkan ketika awal-awal aku duduk di …

How to Talk to a Stranger

Kemarin, aku akhirnya membuka channel TED Talk. Terakhir kali aku buka channel ini ketika masih di US tahun lalu. Woah, sekarang waktu di US udah terkategorikan "tahun lalu". So damn fast, isn't it? Salah satu judul yang menarik perhatianku adalah "How to Start a Conversation." Oke ini terdengar sepele. Apa sih susahnya buat mulai ngobrol? Tinggal bilang "Hai.", kalo dijawab alhamdulillah gak dijawab ya selesai.
Ya gak sesimpel itu, kalau di TED Talk ini. It was a mind blowing talk. Seriously. Habis nonton itu, aku jadi langsung pengen nyari orang asing dan mraktekin apa yang barusan kutonton, tapi gak jadi ding. Soalnya aku nonton video itu malam-malam di rumah. Hahaha. Tapi, hari ini, aku benar-benar dapat kesempatan untuk ngobrol sama a stranger. Perfectly a stranger! Di American Corner.
Aku lagi duduk sambil browsing di ruang multimedia. Ruang multimedia ini kayak ruang kelas gitu, tertutup dan cuma dipake kalo ada kegiatan mengajar atau English Cl…